Airmata seorang Nabi...kerana UmatnyaTatkala ku membaca cerita ini sebak rasanya. Ceritayang mengajarku erticinta dan kasih sayang yang suci.Di saat sakratulmaut datang utk memisah roh darijasad, tatkala menanggungkesakitan, Nabi Muhammad SAW masih lagi membimbangiumatNya, hinggakankesakitan sakratulmuat ingin ditanggung olehNyasendiri bukan umatNya.YA ALLAH, sungguh besar penggorbananNya.YA ALLAH, ampuni dosa kami, cucurilah Rahmat keatasNabi Muhammad SAW,keluargaNya dan sahabat handaiNya.Ku berharap agar Baginda berada didalam Pelukan dan Kasih Sayang Allah.Sungguh menyayat hati... sila baca. Buat pedomanuntuk kita semua.Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut..Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning,burung-burung gurun engganmengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatasmemberikan kutbah, "Wahaiumatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dancinta kasih-Nya. Maka taatidan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkarapada, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berertimencintai aku dan kelakorang-orang yang mencintaiku, akan masuksyurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itudiakhiri dengan pandangan mataRasulullah yang tenang dan penuh minat menatapsahabatnya satu persatu.Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umardadanya naik turunmenahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluhhati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu,hampir selesai menunaikantugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat,tatkala Ali dan Fadhaldengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaanlemah dan goyah ketikaturun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruhsahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu.Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadialas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yangberseru mengucapkan salam.Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yangmembalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudahmembuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Taktahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini akumelihatnya," tuturFatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinyaitu dengan pandangan yangmenggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagianwajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskankenikmatan sementara, dialahyang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakulmaut," kata Rasulullah,Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikatmaut datang menghampiri,tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikutsama menyertainya.Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudahbersiap di atas langitdunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu duniaini.Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"Tanya Rasululllahdengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langittelah terbuka, paramalaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbukalebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidakmembuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidaksenang mendengar khabarini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadakubagaimana nasib umatku kelak?"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernahmendengar Allah berfirmankepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja,kecuali umat Muhammad telahberada di dalamnya," kata Jibril.Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukantugas. Perlahan ruhRasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullahbersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." PerlahanRasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduksemakin dalam dan Jibrilmemalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hinggakau palingkan wajahmuJibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantarwahyu itu. " Siapakah yangsanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kataJibril. Sebentarkemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakityang tidak tertahankanlagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakansaja semua siksa maut inikepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullahmulai dingin, kaki dandadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetarseakan hendakmembisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkantelinganya. "Uushiikum bisshalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Alikembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan,berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Wednesday, October 3, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment